Belakangan nyonya Susi gelisah. Sudah seminggu ini haidnya terlambat. Hamilkah ? Padahal dia tidak pernah lupa minum pil KB. Mereka belum berencana menambah anak lagi. Beberapa waktu lalu dia juga punya keluhan seperti keputihan dan gatal di sekitar organ kewanitaannya. Dokter memberinya obat antijamur griseofulvin. Adakah hubungan antara pil KB/kontrasepsi oral dengan antijamur yang dia minum ?
Hingga sekarang, interaksi obat antara pil KB dan obat antimikroba (antibiotika dan antijamur) masih menjadi kontroversi. Sebagian dokter/klinisi melaporkan adanya sejumlah wanita yang gagal ber-KB karena minum antibiotika selama penggunaan pil KB, terutama tetrasiklin atau golongan penisilin, sementara para ilmuwan belum bisa mengklaim secara kuat bahwa penggunaan secara bersama dua obat tersebut menurunkan konsentrasi obat kontrasepsi oral dalam darah, terutama etinil estradiol (senyawa aktif dalam pil KB).
Selama ini dianggap bahwa interaksi demikian hanya signifikan untuk sebagian kecil wanita saja. Sebagian wanita ini menunjukkan bioavailabilitas (ketersediaan hayati) etinil estadiol yang rendah, karena adanya “first pass “ metabolisme yang berlebihan dan memiliki sirkulasi enterohepatik etinil estradiol yang besar. “First pass metabolism” adalah metabolisme atau perombakan obat oleh hati menjadi bentuk yang tidak aktif/metabolitnya. Studi ilmiah mengenai konsentrasi etinil estradiol dalam darah yang diminum bersamaan dengan antibiotika hanya melibatkan sejumlah terbatas pasien karena masalah logistik dan biaya, dan belum melibatkan kelompok wanita yang “rentan terhadap kehamilan”, sehingga masih sulit diambil kesimpulan yang kuat tentang hal tersebut. Boleh jadi, kasus nyonya Prabowo adalah karena dia termasuk kelompok wanita yang rentan tersebut. Namun karena diperkirakan bahwa antara 60 sampai 70 juta wanita di dunia menggunakan pil KB, dan banyak yang juga menggunakan obat antibiotika/antijamur selama penggunaan kontrasepsi oral tesebut, maka adanya interaksi ini perlu dipertimbangkan dan diketahui.

Bagaimana mekanisme terjadinya interaksi antara pil KB dengan obat antibiotika/antijamur ?
Etinil estradiol adalah estrogen pilihan yang banyak digunakan dalam pil KB, dan merupakan senyawa yang aktif utama pil KB. Dari total zat aktif dalam satu pil, hanya kira-kira 40-50 %-nya saja yang dapat mencapai peredaran darah sistemik dalam bentuk tidak berubah, dengan rentang variasi individual berkisar 10 s/d 70%. Sisanya dimetabolisir selama “first pass metabolisme” melalui saluran pencernaan dan liver/hati. Etinil estradiol yang telah melalui peredaran darah akan diserap oleh tubuh, dan sisa yang tidak terserap akan mengalami konjugasi dengan senyawa sulfat, terutama di dinding saluran cerna, lalu ditranspor di pembuluh darah vena ke dalam liver dimana akan terjadi hidroksilasi dan konjugasi dengan asam glukoronat. Dengan proses metabolisme ini, etinil estradiol berubah menjadi senyawa yang tidak aktif, yang pada akhirnya akan dikeluarkan melalui feses/tinja.
Proses hidroksilasi ini dikatalisir oleh suatu enzym spesifik yang disebut sitokrom P450, yang dipengaruhi oleh sifat genetik, yang berarti tergantung pada sifat gen manusia. Dengan demikian, hal ini dapat menjelaskan mengapa setiap individu, termasuk dari etnik yang berbeda, bisa memiliki perbedaan kemampuan untuk memproses hidroksilasi etinil estradiol dalam tubuh. Estrogen yang tidak terhidroksilasi akan mengalami konjugasi dengan glukoronat, dan kemudian diekskresikan ke dalam empedu, lalu masuk ke dalam usus dan dikeluarkan melalaui tinja. Tetapi, sebagian dari estrogen yang melalui usus tadi masih dapat diproses lagi oleh suatu bakteria usus yaitu spesies Clostridia kembali menjadi bentuk yang aktif/bebas dan dapat mengalami re-sirkulasi dalam peredaran darah sistemik dan mengalami penyerapan lagi.
Ada beberapa keadaan di mana secara teroritik antimikroba (antibiotika/antijamur) dapat mempengaruhi penyerapan, metabolisme dan pengeluaran etilen estradiol, menurunkan potensinya serta dapat menyebabkan pendarahan, bahkan kegagalan KB, yaitu kehamilan. Rifampisin, suatu antibiotika yang digunakan untuk mengobati TBC, adalah yang pertama kali dilaporkan menyebabkan berkurangnya efek pil KB pada sekitar tahun 1971 di Jerman. Di antara 88 wanita yang menggunakan pil KB dan Rifampisin, 62 orang diantaranya dilaporkan mengalami gangguan menstruasi dan 5 orang gagal berKB atau hamil. Rifampisin adalah induser yang poten terhadap enzym sitokrom P450, sehingga meningkatkan proses metabolisme etinil estradiol menjadi senyawa tak aktif, yang pada gilirannya menyebabkan berkurangnya konsentrasi pil KB tersebut dalam tubuh dan menyebabkan efeknya jadi berkurang.
Griseofulvin, suatu obat jamur, juga dilaporkan memiliki efek yang serupa, yaitu mengurangi efek kontrasepsi oral. Obat jamur lain yang dilaporkan dapat menurunkan potensi pil KB adalah itraconazole, namun mekanismenya belum diketahui secara pasti. Yang menarik, obat kelompok triazol yang lain yaitu ketaconazole, dan fluconazole, dilaporkan menghambat enzim sitokrom P450, yang berarti mengurangi metabolisme pil KB menjadi bentuk tak aktifnya, yang pada gilirannya meningkatkan efek pil KB-nya. Namun karena belum ada data epidemiologi yang akurat, masih sulit untuk menyimpulkan secara pasti interaksi obat jamur dengan kontrasepsi oral.
Selain dengan cara meningkatkan kerja enzim pemetabolisme tersebut, antibiotika juga dapat mengurangi efek pil KB dengan cara membunuh bakteria usus yang dibutuhkan untuk memproses etinil estradiol menjadi senyawa bebas yang bisa dire-sirkulasi dan dire-absorpsi. Dengan terbunuhnya bakteri usus yang berguna, yaitu Clostridia, maka proses reabsorpsi obat akan terhambat, kadar zat aktif dalam tubuh jadi berkurang, yang berarti mengurangi efek pil KB. Antibiotika seperti penisilin dan tetrasiklin dilaporkan dapat menyebabkan kegagalan pil KB. Di Selandia baru pada tahun 1987, 23% dari 163 kasus kehamilan yang dilaporkan adalah akibat kegagalan pil KB karena digunakan bersama dengan antibiotika. Namun sekali lagi, masih terdapat kesulitan metodologi dalam studi ilmiah tentang interaksi obat ini. Karena penggunaan parameter yang berbeda, sebagian studi menyatakan tidak ada interaksi yang signifikan antara obat antimikrobia ini dengan pil KB, sementara studi yang lain menyatakan sebaliknya.
Sebuah penelitian yang dilakukan pada kelinci, seperti dilaporkan oleh sebuah jurnal ilmiah Contraception tahun 1997, menunjukkan bahwa antibiotika amoksisilin tidak memiliki efek signifikan terhadap kadar etinil estradiol dalam darah, yang berarti tidak mempengaruhi efek pil KB. Hasil penelitian yang serupa juga ditemui pada antibiotika tetrasiklin. Sebuah studi (tahun 1991) pada 7 orang wanita yang menggunakan kontrasepsi oral dan tetrasiklin secara bersama menunjukkan bahwa tetrasiklin tidak mengurangi secara signifikan kadar etinil estradiol dalam darah. Penelitian lain yang melibatkan generasi baru antibiotika yaitu roxithromycin dan dirirthromycin juga gagal menunjukkan efek yang siginifikan pada pemakaian kombinasi dengan pil KB. Namun demikian, karena penelitian semacam ini pada manusia umumnya hanya melibatkan sejumlah terbatas wanita, boleh jadi hasilnya tidak bisa menggambarkan hasil yang mungkin terjadi pada sekelompok wanita yang memiliki respon yang berbeda.

Bagaimana sebaiknya ?
Walaupun menurut beberapa studi di atas, kemungkinan kejadian interaksi ini hanya terbatas, terutama pada wanita yang memiliki aktivitas enzim pemetabolisme dan sirkulasi enterohepatik yang berlebihan, namun sampai saat ini tidak ada cara untuk mengindentifikasi apakah seorang wanita termasuk kelompok tersebut atau tidak. Karena itu, untuk menghindari kemungkinan kegagalan pil KB, adalah lebih bijaksana jika pasien maupun dokter penulis resep berhati-hati terhadap adanya kombinasi antibiotika/antijamur dengan pil KB. Bagi wanita yang mengkonsumsi rifampisin dalam jangka panjang, sebaiknya memilih cara kontrasepsi yang lain, misalnya dengan suntik KB, spiral, kondom, atau lainnya. Wanita yang menggunakan obat jamur griseofulvin juga perlu waspada terhadap berkurangnya efek pil KB, dan sebaiknya tidak menggantungkan diri pada cara kontrasepsi ini. Cara lain adalah dengan menghindari kontak seksual selama 7 hari pertama pemakaian antibiotika dan 7 hari berikutnya. Jadi tegasnya, jika Anda mendapatkan resep antibiotika, sementara Anda sedang menggunakan pil KB, maka sampaikan pada dokter Anda dan konsultasikan mengenai kemungkinan interaksi ini. Dan yang penting, gunakan juga cara kontrasepsi lain untuk mendukung kerja pil KB yang digunakan selama Anda mengkonsumsi antibiotika/antijamur. Bagaimanapun, berhati-hati akan lebih baik daripada “terlanjur” hamil tanpa direncanakan, apalagi diinginkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s