ALKOHOL

Alkohol secara umum

Alkohol sering dipakai untuk menyebut etanol, yang juga disebut grain alcohol; dan kadang untuk minuman yang mengandung alkohol. Hal ini disebabkan karena memang etanol yang digunakan sebagai bahan dasar pada minuman tersebut, bukan metanol, atau grup alkohol lainnya. Begitu juga dengan alkohol yang digunakan dalam dunia famasi. Alkohol yang dimaksudkan adalah etanol.

Alkohol adalah zat yang paling sering disalahgunakan manusia, alkohol diperoleh atas peragian/fermentasi madu, gula, sari buah atau umbi-umbian. Dari peragian tersebut dapat diperoleh alkohol sampai 15% tetapi dengan proses penyulingan (destilasi) dapat dihasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi bahkan mencapai 100%. Kadar alkohol dalam darah maksimum dicapai 30-90 menit. Setelah diserap, alkohol/etanol disebarluaskan ke suluruh jaringan dan cairan tubuh. Dengan peningkatan kadar alkohol dalam darah orang akan menjadi euforia, namun dengan penurunannya orang tersebut menjadi depresi.

Alkohol murni tidaklah dikonsumsi manusia.  Yang sering dikonsumsi  adalah minuman yang mengandung bahan sejenis alkohol, biasanya adalah ethyl alcohol atau ethanol (CH3CH2OH ).  Bahan ini dihasilkan dari proses fermentasi gula yang dikandung  dari malt dan beberapa buah-buahan seperti hop, anggur dan sebagainya.

Alkohol digunakan secara luas dalam industri dan sains sebagai pereaksi, pelarut, dan bahan bakar. Ada lagi alkohol yang digunakan secara bebas, yaitu yang dikenal di masyarakat sebagai spirtus. Awalnya alkohol digunakan secara bebas sebagai bahan bakar. Namun untuk mencegah penyalahgunaannya untuk makanan atau minuman, maka alkohol tersebut didenaturasi.

Ada 3 golongan minuman berakohol yaitu

  1. golongan A; kadar etanol 1%-5% (bir),
  2. golongan B; kadar etanol 5%-20% (anggur/wine) dan
  3. golongan C; kadar etanol 20%-45% (Whiskey, Vodca, TKW, Manson House, Johny Walker, Kamput).

AkibatPenggunaan:
Bila seseorang mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol, zat tersebut. diserap oleh lambung, masuk ke aliran darah dan tersebar ke seluruh jaringan tubuh, yang mengakibatkan terganggunya semua sistem yang ada di dalam tubuh. Besar akibat alkohol tergantung pada berbagai faktor, antara lain berat tubuh, usia, gender, dan sudah tentu frekuensi dan jumlah alkohol yang dikonsumsi.

Penggunaan alkohol berlebih akan menimbulkan efek samping. Chilwan Pandji mengatakan, konsumsi alkohol berlebih akan menimbulkan efek fisiologis bagi kesehatan tubuh, yaitu mematikan sel-sel baru yang terbentuk dalam tubuh. Selain itu juga efek sirosis dalam hati, dimana jika dalam tubuh manusia terdapat virus maka virus tersebut akan bereaksi dan menimbulkan penyakit hati (kuning). Selain haram, penggunaan alkohol dalam obat akan lebih banyak menimbulkan mudharat daripada manfaatnya. Chilwan Pandji menambahkan bahwa pada saat ini telah ditemukan berbagai macam obat alternatif yang memiliki fungsi sama dengan obat batuk yang mengandung alkohol tersebut.

Kebiasaan minum minuman beralkhohol menyebabkan hati menghasilkan sejumlah besar enzim yang dapat menghancurkan testosteron, hormon pembangkit libido pria. Sebuah riset dari universitas di California menunjukkan bahwa kebanyakan pria tidak bisa ereksi setelah meminum tiga kali minuman keras yang masing-masing dosisnya 1 ons. Karena alkohol mengurangi produksi testosteron, kebiasaan minum yang berat dapat menyebabkan impotensi permanen, bahkan kecenderungan mandul pada pria.

Efek moderat :  euphoria  ( perasaan gembira dan nyaman ), lebih banyak bicara dan rasa pusing

Efek setelah minum dalam jumlah besar

–          banyaksekaliberbicara

–          nausea(‘neg)

–          muntah

–          sakitkepala,pusing

–          rasa haus

–          rasa lelah

–          disorientasi

–          tekanan darah menurun

–          refleks melambat
Akibat Penggunaan – Jangka Panjang :

–          Kegelisahan

–          Gemetar / tremor

–          Halusinasi

–          Kejang-kejang

–          Bila disertai dengan nutrisi yang buruk, akan merusak organ vital seperti otak dan hati

Efek yang ditimbulkan:

Efek yang ditimbulkan setelah mengkonsumsi alkohol dapat dirasakan segera dalam waktu beberapa menit saja, tetapi efeknya berbeda-beda, tergantung dari jumlah / kadar alkohol yang dikonsumsi. Dalam jumlah yang kecil, alkohol menimbulkan perasaan relax, dan pengguna akan lebih mudah mengekspresikan emosi, seperti rasa senang, rasa sedih dan kemarahan.

Bila dikonsumsi berlebihan, akan muncul efek sebagai berikut: merasa lebih bebas lagi mengekspresikan diri, tanpa ada perasaan terhambat menjadi lebih emosional (sedih, senang, marah secara berlebihan) muncul akibat ke fungsi fisik – motorik, yaitu bicara cadel, pandangan menjadi kabur, sempoyongan, inkoordinasi motorik dan bisa sampai tidak sadarkan diri. kemampuan mental mengalami hambatan, yaitu gangguan untuk memusatkan perhatian dan daya ingat terganggu.

Pengguna biasanya merasa dapat mengendalikan diri dan mengontrol tingkahlakunya. Pada kenyataannya mereka tidak mampu mengendalikan diri seperti yang mereka sangka mereka bisa. Oleh sebab itu banyak ditemukan kecelakaan mobil yang disebabkan karena mengendarai mobil dalam keadaan mabuk.

Pemabuk atau pengguna alkohol yang berat dapat terancam masalah kesehatan yang serius seperti radang usus, penyakit liver, dan kerusakan otak. Kadang-kadang alkohol digunakan dengan kombinasi obat – obatan berbahaya lainnya, sehingga efeknya jadi berlipat ganda. Bila ini terjadi, efek keracunan dari penggunaan kombinasi akan lebih buruk lagi dan kemungkinan mengalami over dosis akan lebih besar.

Catatan:

–          Sangat potensial menimbulkan rasa ketagihan / ketergantungan

–          Semakin lama penggunaan, toleransi tubuh semakin besar sehingga untuk mendapatkan
efek yang sama, semakin lama semakin besar dosisnya.

Bila ibu yang hamil mengkonsumsi, akan mengakibatkan bayi yang memiliki resiko lebih tinggi terhadap hambatan perkembangan mental dan ketidak-normalan lainnya, serta beresiko lebih besar menjadi pecandu alkohol saat dewasanya. para wanita itu lebih cepat mabuk dan mabuk lebih lama dibandingkan dengan pria. Wanita lebih cepat menyerap alkohol dan lebih dulu menahannya dalam darah daripada pria. Akibatnya, dapat membahayakan janin. gangguan pada janin sudah dapat terjadi pada tiga minggu kehamilan, jauh sebelum wanitanya sendiri sadar dirinya hamil.

Alkohol dalam islam

Alkohol itu penyakit bukan obat

Islam tidak memperkenankan seorang muslim untuk meminumnya walaupun hanya sedikit dan tidak memperkenankannya untuk memperjualbelikan atau membuatnya, tidak boleh memasukkannya kedala took atau rumahnya, tidak boleh mendatangkan di acara kegembiraan, tidak boleh menghidangkannya kepada tamu non muslim sekalipun, dan tidak boleh mencampurkannya kedalam makanan atau minumannya.

Tinggal satu segi yang sering dipertanyakan oleh sementara orang, yaitu menggunakan alcohol sebagai obat. Rasulullah saw sudah pernah memberikan jawaban terhadap persoalan ini, ketika beliau ditanya oleh seseorang tentang hokum minum alcohol, lalu beliau melarangnya, kemudian orang itu berkata “ sesungguhnya aku membuatnya untuk obat”. Lalu beliau bersabda :

“Sesungguhnya dia (khamr) itu bukan obat melainkan penyakit”. (diriwayatkan oleh muslim, Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi)

Namun demikian, dalam kondisi darurat, ia mempunyai hokum tersendiri menurut pandangan syariah. Kalau dipastikan bahwa alcohol atau sesuatu yang dicampur dengannya dapat menjadi obat bagi suatu penyakit yang dikhawatirkan akan membahayakan kehidupan seseorang sedang obat lain sudah tidak mempan.

“Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui bats, maka sesungguhnya TuhanMu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-An’am:145).

Sebenarnya pada kondisi darurat, obat yang mengandung bahan haram atau najis bisa digunakan. Definisi darurat dalam pandangan fiqih adalah bilamana nyawa seseorang sudah terancam dan pada kondisi tersebut tidak ada alternatif lain yang bisa menyembuhkannya. Pandangan darurat terhadap penggunaan alkohol dalam bahan obat-obatan saat ini merupakan hal yang cukup penting. Terutama dikaitkan dengan status halal dan haramnya. Berdasarkan hasil rapat komisi fatwa pada bulan Agustus 2000 disebutkan bahwa semua jenis minuman keras haram hukumnya, segala sesuatu yang mengandung alkohol itu dilarang karena haram dan minuman keras adalah minuman yang mengandung alkohol minimal 1 persen, termasuk dalam obat-obatan, tak terkecuali obat batuk.

Ketika beliau ditanya tentang obat-obatan yang sebagiannya mengandung bahan pembius dan sebagian lainnya mengandung alkohol, dengan perbandingan kadar campuran yang beraneka ragam, maka beliau menjawab: “Obat-obatan yang memberi rasa lega dan mengurangi rasa sakit penderita, tidak mengapa digunakan sebelum dan sesudah operasi. Kecuali jika diketahui bahwa obat-obatan tersebut dari “Sesuatu yang banyaknya memabukkan” maka tidak boleh digunakan berdasarkan sabda Nabi :

مَا أَسْكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ

“Sesuatu yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnyapun haram.” Adapun jika obat-obatan itu tidak memabukkan dan banyaknya pun tidak memabukkan, hanya saja berefek membius (menghilangkan rasa) untuk mengurangi beban rasa sakit penderita maka yang seperti ini tidak mengapa.”(Majmu’ Fatawa, 6/18)

BEROBAT DENGAN MAKANAN YANG HARAM

Semua makanan yang diharamkan ini hukumnya berlaku dalam kondisi normal. Tetapi dalam kondisi dharurat, ia mempunyai hukum tersendiri sebagaimana firman Allah SWT:

“ Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya atas kamu, kecuali apa yang kamu terpaksa memakannya” (Al-An’am:119).

“ Barangsiapa terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-Baqarah:173).

Dharurat yang telah disepakati ini ialah dharurat untuk makan. Yaitu orang yang bersangkutan mengalami kelaparan sebagian fuqaha memberikan batas minimal selama sehari semalam dia tidak makan dan tidak mendapatkan sesuatu untuk dimakan kecuali makanan yang haram ini, maka ia boleh mengambil dan memakannya untuk menghindarkan bahaya dan menjaga diri dari kebinasaan.

Imam Malik berkata: “Batasannya ialah sekedar kenyang; dan ia boleh menyimpannya sehingga mendapatkan makanan lain”.

Fuqaha yang lain berkata, “Tidak boleh memakannya kecuali sekedar dapat mempertahankan sisa hidupnya.” Barangkali pendapat inilah yang dimaksud oleh firman Allah: “Ghaira baaghin wa laa’aadin”: (Dengan tidak berkeinginan dan tidak melewati batas). Yakni tidak mencari-cari alas an untuk memenuhi syahwat (keinginan) dan tidak melampaui batas dharurat. Lapar sebagai kondisi dharurat ini sudah dijelaskan secara eksplisit oleh Alquran: “Barangsiapa yang terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang”. (Al-Ma’idah:3)

Dharuratnya Berobat

Mengenai dharuratnya berobat yakni sejauh mana seseorang diperkenankan menggunakan barang haram untuk mengobati penyakit para ahli fiqih berbeda pendapat. Sebagian mereka berpendapat bahwa berobat tidak dharurat sebagaimana halnya makan (kelaparan). Mereka beralasan dengan hadits:

“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan obat untukmu pada sesuatu yang diharamkan atasmu.”

Sebagian lagi menganggap sakit sebagai dharurat, dan menjadikan berobat sebagaiman halnya makan. Keduanya merupakan keharusan bagi kelangsungan hidup. Di dalam memperbolehkan menggunakan benda haram untuk berobat ini, mereka beralasan dengan riwayat yang menceritakan bahwa Nabi SAW memberi perkenan kepada Abdur Rahman bin Auf dan Zubeir bin al-Awwam radhiyallahu ‘anhuma untuk mengenakan sutera karena badannya terkena penyakit gatal-gatal, padahal beliau melarang memkai sutera dan mengecam pemakaian sutera dengan keras.

Pendapat ini lebih dekat kepada ruh (jiwa) agam Islam yang senantiasa memelihara dan melindungi kehidupan manusia dalam semua syari’at dan pesan-pesannya.

Akan tetapi rukhshah (keringanan) untuk berobat dengan sesuatu yang haram itu harus memnuhi beberapa persyaratan sebagai berikut:

  1. Terdapat bahaya yang mengancam kehidupan manusia jika tidak menggunakan obat tersebut.
  2. Tidak terdapat obat yang halal secara memadai, yang dapat menggantikannya.
  3. Hal ini harus didasarkan atas advance dokter muslim yang dapat dipercaya tentang keilmuan dan keagamaannya sekaligus.

Dikatakan demikian berdasarkan realita yang kami ketahui dan dari hasil penelitian dokter-dokter yang terpercaya, bahwa tidak ada dharurat kedokteran yang menetapakan bolehnya menggunakan sesuatu yang haram ini seperti berobat. Akan tetapi kami menetapkan prinsip-prinsip ini sebagai sifat kehati-hatian bagi seorang muslim yang kadang-kadang berada di suatu tempat yang tidak didapati obat disana kecuali benda-benda haram ini.

ALKOHOL

Alkohol secara umum

Alkohol sering dipakai untuk menyebut etanol, yang juga disebut grain alcohol; dan kadang untuk minuman yang mengandung alkohol. Hal ini disebabkan karena memang etanol yang digunakan sebagai bahan dasar pada minuman tersebut, bukan metanol, atau grup alkohol lainnya. Begitu juga dengan alkohol yang digunakan dalam dunia famasi. Alkohol yang dimaksudkan adalah etanol.

Alkohol adalah zat yang paling sering disalahgunakan manusia, alkohol diperoleh atas peragian/fermentasi madu, gula, sari buah atau umbi-umbian. Dari peragian tersebut dapat diperoleh alkohol sampai 15% tetapi dengan proses penyulingan (destilasi) dapat dihasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi bahkan mencapai 100%. Kadar alkohol dalam darah maksimum dicapai 30-90 menit. Setelah diserap, alkohol/etanol disebarluaskan ke suluruh jaringan dan cairan tubuh. Dengan peningkatan kadar alkohol dalam darah orang akan menjadi euforia, namun dengan penurunannya orang tersebut menjadi depresi.

Alkohol murni tidaklah dikonsumsi manusia.  Yang sering dikonsumsi  adalah minuman yang mengandung bahan sejenis alkohol, biasanya adalah ethyl alcohol atau ethanol (CH3CH2OH ).  Bahan ini dihasilkan dari proses fermentasi gula yang dikandung  dari malt dan beberapa buah-buahan seperti hop, anggur dan sebagainya.

Alkohol digunakan secara luas dalam industri dan sains sebagai pereaksi, pelarut, dan bahan bakar. Ada lagi alkohol yang digunakan secara bebas, yaitu yang dikenal di masyarakat sebagai spirtus. Awalnya alkohol digunakan secara bebas sebagai bahan bakar. Namun untuk mencegah penyalahgunaannya untuk makanan atau minuman, maka alkohol tersebut didenaturasi.

Ada 3 golongan minuman berakohol yaitu

  1. golongan A; kadar etanol 1%-5% (bir),
  2. golongan B; kadar etanol 5%-20% (anggur/wine) dan
  3. golongan C; kadar etanol 20%-45% (Whiskey, Vodca, TKW, Manson House, Johny Walker, Kamput).

AkibatPenggunaan:
Bila seseorang mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol, zat tersebut. diserap oleh lambung, masuk ke aliran darah dan tersebar ke seluruh jaringan tubuh, yang mengakibatkan terganggunya semua sistem yang ada di dalam tubuh. Besar akibat alkohol tergantung pada berbagai faktor, antara lain berat tubuh, usia, gender, dan sudah tentu frekuensi dan jumlah alkohol yang dikonsumsi.

Penggunaan alkohol berlebih akan menimbulkan efek samping. Chilwan Pandji mengatakan, konsumsi alkohol berlebih akan menimbulkan efek fisiologis bagi kesehatan tubuh, yaitu mematikan sel-sel baru yang terbentuk dalam tubuh. Selain itu juga efek sirosis dalam hati, dimana jika dalam tubuh manusia terdapat virus maka virus tersebut akan bereaksi dan menimbulkan penyakit hati (kuning). Selain haram, penggunaan alkohol dalam obat akan lebih banyak menimbulkan mudharat daripada manfaatnya. Chilwan Pandji menambahkan bahwa pada saat ini telah ditemukan berbagai macam obat alternatif yang memiliki fungsi sama dengan obat batuk yang mengandung alkohol tersebut.

Kebiasaan minum minuman beralkhohol menyebabkan hati menghasilkan sejumlah besar enzim yang dapat menghancurkan testosteron, hormon pembangkit libido pria. Sebuah riset dari universitas di California menunjukkan bahwa kebanyakan pria tidak bisa ereksi setelah meminum tiga kali minuman keras yang masing-masing dosisnya 1 ons. Karena alkohol mengurangi produksi testosteron, kebiasaan minum yang berat dapat menyebabkan impotensi permanen, bahkan kecenderungan mandul pada pria.

Efek moderat :  euphoria  ( perasaan gembira dan nyaman ), lebih banyak bicara dan rasa pusing

Efek setelah minum dalam jumlah besar

–          banyaksekaliberbicara

–          nausea(‘neg)

–          muntah

–          sakitkepala,pusing

–          rasa haus

–          rasa lelah

–          disorientasi

–          tekanan darah menurun

–          refleks melambat
Akibat Penggunaan – Jangka Panjang :

–          Kegelisahan

–          Gemetar / tremor

–          Halusinasi

–          Kejang-kejang

–          Bila disertai dengan nutrisi yang buruk, akan merusak organ vital seperti otak dan hati

Efek yang ditimbulkan:

Efek yang ditimbulkan setelah mengkonsumsi alkohol dapat dirasakan segera dalam waktu beberapa menit saja, tetapi efeknya berbeda-beda, tergantung dari jumlah / kadar alkohol yang dikonsumsi. Dalam jumlah yang kecil, alkohol menimbulkan perasaan relax, dan pengguna akan lebih mudah mengekspresikan emosi, seperti rasa senang, rasa sedih dan kemarahan.

Bila dikonsumsi berlebihan, akan muncul efek sebagai berikut: merasa lebih bebas lagi mengekspresikan diri, tanpa ada perasaan terhambat menjadi lebih emosional (sedih, senang, marah secara berlebihan) muncul akibat ke fungsi fisik – motorik, yaitu bicara cadel, pandangan menjadi kabur, sempoyongan, inkoordinasi motorik dan bisa sampai tidak sadarkan diri. kemampuan mental mengalami hambatan, yaitu gangguan untuk memusatkan perhatian dan daya ingat terganggu.

Pengguna biasanya merasa dapat mengendalikan diri dan mengontrol tingkahlakunya. Pada kenyataannya mereka tidak mampu mengendalikan diri seperti yang mereka sangka mereka bisa. Oleh sebab itu banyak ditemukan kecelakaan mobil yang disebabkan karena mengendarai mobil dalam keadaan mabuk.

Pemabuk atau pengguna alkohol yang berat dapat terancam masalah kesehatan yang serius seperti radang usus, penyakit liver, dan kerusakan otak. Kadang-kadang alkohol digunakan dengan kombinasi obat – obatan berbahaya lainnya, sehingga efeknya jadi berlipat ganda. Bila ini terjadi, efek keracunan dari penggunaan kombinasi akan lebih buruk lagi dan kemungkinan mengalami over dosis akan lebih besar.

Catatan:

–          Sangat potensial menimbulkan rasa ketagihan / ketergantungan

–          Semakin lama penggunaan, toleransi tubuh semakin besar sehingga untuk mendapatkan
efek yang sama, semakin lama semakin besar dosisnya.

Bila ibu yang hamil mengkonsumsi, akan mengakibatkan bayi yang memiliki resiko lebih tinggi terhadap hambatan perkembangan mental dan ketidak-normalan lainnya, serta beresiko lebih besar menjadi pecandu alkohol saat dewasanya. para wanita itu lebih cepat mabuk dan mabuk lebih lama dibandingkan dengan pria. Wanita lebih cepat menyerap alkohol dan lebih dulu menahannya dalam darah daripada pria. Akibatnya, dapat membahayakan janin. gangguan pada janin sudah dapat terjadi pada tiga minggu kehamilan, jauh sebelum wanitanya sendiri sadar dirinya hamil.

Alkohol dalam islam

Alkohol itu penyakit bukan obat

Islam tidak memperkenankan seorang muslim untuk meminumnya walaupun hanya sedikit dan tidak memperkenankannya untuk memperjualbelikan atau membuatnya, tidak boleh memasukkannya kedala took atau rumahnya, tidak boleh mendatangkan di acara kegembiraan, tidak boleh menghidangkannya kepada tamu non muslim sekalipun, dan tidak boleh mencampurkannya kedalam makanan atau minumannya.

Tinggal satu segi yang sering dipertanyakan oleh sementara orang, yaitu menggunakan alcohol sebagai obat. Rasulullah saw sudah pernah memberikan jawaban terhadap persoalan ini, ketika beliau ditanya oleh seseorang tentang hokum minum alcohol, lalu beliau melarangnya, kemudian orang itu berkata “ sesungguhnya aku membuatnya untuk obat”. Lalu beliau bersabda :

“Sesungguhnya dia (khamr) itu bukan obat melainkan penyakit”. (diriwayatkan oleh muslim, Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi)

Namun demikian, dalam kondisi darurat, ia mempunyai hokum tersendiri menurut pandangan syariah. Kalau dipastikan bahwa alcohol atau sesuatu yang dicampur dengannya dapat menjadi obat bagi suatu penyakit yang dikhawatirkan akan membahayakan kehidupan seseorang sedang obat lain sudah tidak mempan.

“Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui bats, maka sesungguhnya TuhanMu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-An’am:145).

Sebenarnya pada kondisi darurat, obat yang mengandung bahan haram atau najis bisa digunakan. Definisi darurat dalam pandangan fiqih adalah bilamana nyawa seseorang sudah terancam dan pada kondisi tersebut tidak ada alternatif lain yang bisa menyembuhkannya. Pandangan darurat terhadap penggunaan alkohol dalam bahan obat-obatan saat ini merupakan hal yang cukup penting. Terutama dikaitkan dengan status halal dan haramnya. Berdasarkan hasil rapat komisi fatwa pada bulan Agustus 2000 disebutkan bahwa semua jenis minuman keras haram hukumnya, segala sesuatu yang mengandung alkohol itu dilarang karena haram dan minuman keras adalah minuman yang mengandung alkohol minimal 1 persen, termasuk dalam obat-obatan, tak terkecuali obat batuk.

Ketika beliau ditanya tentang obat-obatan yang sebagiannya mengandung bahan pembius dan sebagian lainnya mengandung alkohol, dengan perbandingan kadar campuran yang beraneka ragam, maka beliau menjawab: “Obat-obatan yang memberi rasa lega dan mengurangi rasa sakit penderita, tidak mengapa digunakan sebelum dan sesudah operasi. Kecuali jika diketahui bahwa obat-obatan tersebut dari “Sesuatu yang banyaknya memabukkan” maka tidak boleh digunakan berdasarkan sabda Nabi :

مَا أَسْكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ

“Sesuatu yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnyapun haram.” Adapun jika obat-obatan itu tidak memabukkan dan banyaknya pun tidak memabukkan, hanya saja berefek membius (menghilangkan rasa) untuk mengurangi beban rasa sakit penderita maka yang seperti ini tidak mengapa.”(Majmu’ Fatawa, 6/18)

BEROBAT DENGAN MAKANAN YANG HARAM

Semua makanan yang diharamkan ini hukumnya berlaku dalam kondisi normal. Tetapi dalam kondisi dharurat, ia mempunyai hukum tersendiri sebagaimana firman Allah SWT:

“ Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya atas kamu, kecuali apa yang kamu terpaksa memakannya” (Al-An’am:119).

“ Barangsiapa terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-Baqarah:173).

Dharurat yang telah disepakati ini ialah dharurat untuk makan. Yaitu orang yang bersangkutan mengalami kelaparan sebagian fuqaha memberikan batas minimal selama sehari semalam dia tidak makan dan tidak mendapatkan sesuatu untuk dimakan kecuali makanan yang haram ini, maka ia boleh mengambil dan memakannya untuk menghindarkan bahaya dan menjaga diri dari kebinasaan.

Imam Malik berkata: “Batasannya ialah sekedar kenyang; dan ia boleh menyimpannya sehingga mendapatkan makanan lain”.

Fuqaha yang lain berkata, “Tidak boleh memakannya kecuali sekedar dapat mempertahankan sisa hidupnya.” Barangkali pendapat inilah yang dimaksud oleh firman Allah: “Ghaira baaghin wa laa’aadin”: (Dengan tidak berkeinginan dan tidak melewati batas). Yakni tidak mencari-cari alas an untuk memenuhi syahwat (keinginan) dan tidak melampaui batas dharurat. Lapar sebagai kondisi dharurat ini sudah dijelaskan secara eksplisit oleh Alquran: “Barangsiapa yang terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang”. (Al-Ma’idah:3)

Dharuratnya Berobat

Mengenai dharuratnya berobat yakni sejauh mana seseorang diperkenankan menggunakan barang haram untuk mengobati penyakit para ahli fiqih berbeda pendapat. Sebagian mereka berpendapat bahwa berobat tidak dharurat sebagaimana halnya makan (kelaparan). Mereka beralasan dengan hadits:

“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan obat untukmu pada sesuatu yang diharamkan atasmu.”

Sebagian lagi menganggap sakit sebagai dharurat, dan menjadikan berobat sebagaiman halnya makan. Keduanya merupakan keharusan bagi kelangsungan hidup. Di dalam memperbolehkan menggunakan benda haram untuk berobat ini, mereka beralasan dengan riwayat yang menceritakan bahwa Nabi SAW memberi perkenan kepada Abdur Rahman bin Auf dan Zubeir bin al-Awwam radhiyallahu ‘anhuma untuk mengenakan sutera karena badannya terkena penyakit gatal-gatal, padahal beliau melarang memkai sutera dan mengecam pemakaian sutera dengan keras.

Pendapat ini lebih dekat kepada ruh (jiwa) agam Islam yang senantiasa memelihara dan melindungi kehidupan manusia dalam semua syari’at dan pesan-pesannya.

Akan tetapi rukhshah (keringanan) untuk berobat dengan sesuatu yang haram itu harus memnuhi beberapa persyaratan sebagai berikut:

  1. Terdapat bahaya yang mengancam kehidupan manusia jika tidak menggunakan obat tersebut.
  2. Tidak terdapat obat yang halal secara memadai, yang dapat menggantikannya.
  3. Hal ini harus didasarkan atas advance dokter muslim yang dapat dipercaya tentang keilmuan dan keagamaannya sekaligus.

Dikatakan demikian berdasarkan realita yang kami ketahui dan dari hasil penelitian dokter-dokter yang terpercaya, bahwa tidak ada dharurat kedokteran yang menetapakan bolehnya menggunakan sesuatu yang haram ini seperti berobat. Akan tetapi kami menetapkan prinsip-prinsip ini sebagai sifat kehati-hatian bagi seorang muslim yang kadang-kadang berada di suatu tempat yang tidak didapati obat disana kecuali benda-benda haram ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s