Berpuasa merupakan salah satu kewajiban umat Islam di dunia. Dalam perkembangannya di dunia kesehatan, puasa ternyata sudah dibuktikan lewat berbagai penelitian dan cukup bermanfaat bagi kesehatan sehingga sudah semakin banyak berbagai macam tipe terapi melawan berbagai penyakit yang didasarkan pada tindakan berpuasa ini. Selama berpuasa, pola makan akan berubah karena hanya diperbolehkan makan saat pagi sebelum terbit fajar yaitu pada saat sahur dan menjelang malam hari. Lambung dibiarkan kosong selama sekitar 13 jam. Umumnya tubuh memerlukan waktu 3-5 hari untuk beradaptasi dengan pola makan yang baru ini. Meskipun lambung kosong selama belasan jam, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tubuh akan tetap memiliki energi yang cukup untuk beraktivitas. Energi tersebut berasal dari cadangan energi berupa lemak yang tersimpan, serta glikogen yang tersimpan di otot dan hati. Hormon (dari bahasa Yunani, όρμή: horman – “yang menggerakkan”) adalah zat kimia yang diproduksi oleh kelenjar endokrin yang mempunyai efek tertentu pada aktifitas organ-organ lain dalam tubuh berfungsi sebagai pembawa pesan kimiawi antarsel atau antarkelompok sel. Semua organisme multiselular, termasuk tumbuhan memproduksi hormon. Hormon juga dapat berfungsi untuk memberikan sinyal ke sel target yang selanjutnya akan melakukan suatu tindakan atau aktivitas tertentu. Dalam kondisi sedang berpuasa, liver melepaskan cadangan glukose dan aktif membentuk glukose baru dari sisa pembakaran glukose sebagai limbah metabolisme.Aktivitas pelepasan cadangan dan pembentukan glukose baru yang disentralisasi di liver merupakan hasil proses tubuh yang sangat komplek dalam rangka mempertahankan keseimbangan lingkungan dalam tubuh. Proses ini melibatkan hampir seluruh subsistem dan organ tubuh, termasuk didalamnya sistem hormon dan susunan syaraf pusat. Pengendalian fungsi hati dalam metabolisme sangat bergantung pada hormon pankreas, insulin dan glukagon. Hormon insulin bekerja menghambat pembentukan glukose, sedangkan glukagon justru memacu pembentukan serta pelepasan glukose. Sementara itu pelepasan hormon pankreas dipengaruhi oleh kadar glukose plasma (gula darah). Apabila glukose darah turun maka pelepasan insulin dihambat, sedangkan pelepasan glukagon dipacu, sehingga hati akan meningkatkan glukoneogenesis (pembentukan glukose baru) dan melepaskan glukosenya ke darah. Pada saat puasa orang akan bersabar dan berusaha menahan amarah dan senantiasa pasrah pada Tuhan. Hal itu akan membuat fungsi hormon berjalan normal sehingga irama hidup lebih harmonis. Pengaruh mekanisme puasa terhadap kesehatan jasmani meliputi berbagai aspek, diantaranya yaitu : 1.   Memberikan kesempatan istirahat kepada alat pencernaan Pada hari-hari ketika tidak sedang berpuasa, alat pencernaan di dalam tubuh bekerja keras, oleh karena itu sudah sepantasnya alat pencernaan diberi istirahat. 2.   Membersihkan tubuh dari racun & kotoran (detoksifikasi) Puasa merupakan terapi detoksifikasi yang paling tua. Dengan puasa, berarti membatasi kalori yang masuk dalam tubuh kita sehingga menghasilkan enzim antioksidan yang dapat membersihkan zat-zat yang bersifat racun dari dalam tubuh. 3.   Menambah jumlah sel darah putih sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh Pada minggu pertama puasa belum ditemukan pertumbuhan sel darah putih. Namun, mulai hari ketujuh (minggu kedua), penambahan sel darah putih pesat sekali. Darah putih merupakan unsur utama dalam sistem pertahanan tubuh. 4.   Memblokir makanan untuk bakteri, virus, dan sel kanker sehingga kuman-kuman tersebut tidak bisa bertahan hidup. 5.   Memperbaiki fungsi hormon yang diperlukan dalam berbagai proses fisiologis dan biokimia tubuh. Hormon dikeluarkan oleh kelenjar endokrin dan hipofisis sebagai reaksi tubuh terhadap berbagai tekanan dan stres lingkungan. Kekurangan atau kelebihan produksi hormon tertentu akan berdampak buruk pada kesehatan tubuh. Misal ketika mengalami stres, hormon insulin dan adrenalin yang mengatur waktu lapar terganggu sehingga nafsu makan hilang atau bahkan datang lebih cepat. Kekurangan produksi hormon insulin berakibat munculnya penyakit diabetes, sedangkan bila berlebihan tubuh akan menderita hiperglikemia. Pada saat puasa orang akan bersabar dan berusaha menahan emosi dan hawa nafsu. Hal itu akan membuat fungsi hormon berjalan normal. 6.   Menyeimbangkan kadar asam dan basa dalam tubuh. 7.   Mendorong terjadinya pergantian sel-sel tubuh yang rusak dengan yang baru  (peremajaan). Ketika kita berpuasa, organ tubuh berada pada posisi rileks, sehingga mempunyai kesempatan untuk memperbarui sel-selnya. 8.   Meningkatkan daya tahan tubuh (imunitas) Puasa akan mengurangi produksi senyawa oksigen yang bersifat racun (radikal bebas oksigen). Dilaporkan, sekitar tiga persen dari oksigen yang digunakan sel akan menghasilkan radikal bebas oksigen dan menambah tumpukan oksigen racun seperti anion superoksida (O2-) dan hidrogen peroksida (H2O2) yang secara alamiah terjadi di tubuh. Kelebihan radikal bebas oksigen tersebut akan mengurangi aktivitas kerja enzim, menyebabkan mutasi dan kerusakan dinding sel. Sekitar 50 penyakit degeneratif, termasuk penyakit jantung dan stroke, dicetuskan dan diperparah oleh senyawa radikal bebas. Hasil penelitian menunjukkan, puasa dapat menekan produksi radikal bebas sekitar 90% dan meningkatkan antioksidan sekitar 12%. Sehingga, berpuasa berarti meningkatkan daya tahan tubuh (sistem imun). 9.   Meningkatkan fungsi organ tubuh Puasa akan memberikan rangsangan terhadap seluruh sel, jaringan, dan organ tubuh. Efek rangsangan ini akan menghasilkan, memulihkan, dan meningkatkan fungsi organ sesuai fungsi fisiologisnya, misalnya panca indra menjadi lebih tajam 10. Menurunkan kolesterol dan trigliserida Beberapa hasil penelitian ilmiah menunjukkan bahwa puasa dapat memperbaiki profil kolesterol darah, yaitu menurunkan kadar kolesterol total dan LDL, serta menaikkan kadar HDL. Hal ini terkait erat dengan perubahan pola dan frekuensi makan, sehingga asupan lemak jauh berkurang. Kadar kolesterol total darah yang tinggi dalam jangka panjang akan menyebabkan penyumbatan pada saluran pembuluh darah, sehingga menimbuikan aterosklerosis. Aterosklerosis merupakan faktor resiko timbulnya gangguan kardiovaskular, seperti stroke, PJK, dan hipertensi. 11. Menurunkan berat badan dan mencegah obesitas (kegemukan) 12. Mengurangi risiko terkena diabetes melitus 13. Meningkatkan kuantitas dan kualitas sperma 14. Puasa meningkatkan fungsi organ reproduksi Hal ini terkait dengan peremajaan sel-sel yang berpengaruh pada sel-sel urogenitalis dan alat-alat reproduksi lainnya. Hormon yang berkaitan dengan masalah perilaku seksual tidak hanya dihasilkan oleh organ indung telur (estrogen) dan testis (testosteron), tetapi juga oleh kelenjar hipofisis. 15. Menyembuhkan penyakit maag. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat menyembuhkan sakit maag yang timbul akibat kelainan fungsional. Hal ini terkait erat dengan perubahan pola makan yang menjadi lebih teratur saat berpuasa, dan berkurangnya konsumsi makanan yang mengandung gas yang menyebabkan rasa tidak enak pada perut (dispepsia). Hormon-hormon yang mengalami perubahan pada saat puasa 1.   Growth Hormone (hormon pertumbuhan) dan cortisol hormone Pola tidur yang berubah, karena adanya waktu sahur, telah mengubah daur fisiologi hormon pertumbuhan (growth hormone) dan hormon kortisol. Kedua hormon ini mencapai puncak produksinya dari tengah malam hingga menjelang subuh, setelah mengalami tidur yang nyaman. Hormon pertumbuhan berfungsi untuk meningkatkan penghancuran asam amino dari darah ke otak, sehingga sangat membantu pemenuhan secara permanen pemulihan sel saraf. Hormon kortisol berperan dalam membantu menghadapi stressor (penyebab stres) pada pagi hari, mengurangi paradangan, dan keletihan. Meski terjadi perubahan pola tidur, harus diupayakan tidur yang cukup, karena tidur akan memulihkan sel-sel otot, termasuk jantung ginjal, sumsum merah tulang, lambung, dan otak. Tetapi, tidur yang terlalu banyak akan membuat tonus otot berkurang, eksitasi sel saraf dan hormon kortisol menurun, sehingga kita jadi loyo, kulit muka kering dan tidak segar. Ini dapat disiasati dengan tidur siang 1 – 2 jam dan tidur malam yang cukup sehingga pada saat bangun sahur, sudah cukup tidur. 2.   Somatotropin Hormon, Hormon Pertumbuhan (STH) Pada saat kita puasa, terjadi pengeluaran Somatotropin Hormone (STH). STH meningkatkan pengambilan asam amino oleh sel-sel tubuh sehingga menyebabkan penggunaan gula oleh tubuh berkurang. Terjadi mobilisasi lemak dari sel-sel lemak yang meningkat dalam jumlah besar sehingga tersedia energi dalam jumlah besar pula. Penggunaan gula oleh tubuh juga berkurang dengan sendirinya, dan terjadi penghematan energi. 3.   Endorphin hormon Dari literatur disebutkan bahwa pada saat berpuasa tubuh akan merangsang pengeluaran hormon endorphins yang berfungsi mengurangi rasa sakit dan gangguan emosional. Sehingga akan memberikan efek menenangkan secara psikologis. 4.   Hormon Insulin Puasa juga mengurangi risiko terkena penyakit diabetes. Mekanismenya adalah, pengurangan konsumsi kalori secara fisiologis menurunkan sirkulasi hormon insulin dan kadar gula darah. Hal ini akan meningkatkan sensitivitas hormon insulin dalam menormalkan kadar gula darah dan menurunkan suhu tubuh. Pengontrolan gula darah yang baik akan mencegah penyakit diabetes tipe-2, yaitu penyakit diabetes yang disebabkan oleh tidak sensitifnya hormon insulin dalam mengontrol gula darah. Tetap aktif secara fisik saat berpuasa memompa tubuh untuk mengeluarkan hormon stres. Hormon ini yang memeras gula keluar dari cadangan hidrat arang tubuh, dan membuat gula baru dari jaringan cadangan tubuh lainnya seperti jaringan lemak. 5.   Hormon testosteron Selama berpuasa kinerja hormon testosteron meningkat, terutama membantu dalam proses pembentukan sperma. Dalam sepuluh tahun terakhir para ahli kedokteran telah mengumpulkan data-data laboratorium medis kedokteran yang menunjukkan bahwa puasa dapat membantu untuk mengobati sebagian penuaan dini. Karena puasa tersebut menambah kinerja pemecahan hormon (FSH) dan hormon latinah (LH) dan hormon prolaktin. Di sisi lain mendukung kinerja hormon testosteron pria, lebih lanjut membantu dalam pembentukan sperma. Beberapa penelitian “chronobiological” menunjukkan saat puasa ramadan berpengaruh terhadap ritme penurunan distribusi sirkadian dari suhu tubuh, hormon kortisol, melatonin dan glisemia. Beberapa penelitian menunjukkan puncak kadar hormon melatonin berubah dan terlambat. Juga terjadi pergeseran waktu dalam pengeluaran hormon kortisol and testosteron. Kadar puncak  dan pola ritme hormon prolactin, FSH and GH  tidak berubah secara bermakna. Hanya pola ritme hormon TSH tidak terjadi seperti biasanya. Data tersebut menunjukkan bahwa saat puasa perubahan dalam jadwal tidur, psikologis dan kebiasaan sosial selama puasa merubah pola ritme jumlah beberapa hormon. Proses terjadinya rasa lapar : Pada saat perut kosong, maka akan dikirim kan sinyal kepada pusat lapar yaitu hipothalamus. Oleh hipothalamus direspon dengan mengeluarkan hormon-hormon pencernaan seperti seperti gatrin, kolesistokinin,lipase, dan amilase. Di sini bukan hipothalamus-nya yang mengeluarkan hormon tersebut secara langsung, namun menstimuli organ-organ yang memiliki hormon tersebut untuk mensekresikannya. Pada saat lapar, kelenjar ludah mengeluarkan enzim amilase. Sehingga ludah menjadi semakin banyak dan di dalam lambung terjadi pengeluaran gastrin yang memicu meningkatnya asam lambung. Asam lambung meningkat dan dinding lambung bergesekan sehingga timbul bunyi. Hal inilah yang memicu lapar dan nafsu makan akan meningkat. Hal ini bisa diblok oleh niat puasa. Pada waktu makan sahur, ada keyakinan tidak akan makan kecuali saat adzan maghrib berkumandang. Keyakinan ini dibawa ke otak sampai ke hipothalamus. Di hipothalamus diproses sehingga impuls perut yang kosong akan diblok, sehingga asam lambung tidak meningkat, dan kelenjar ludah juga tidak meningkat. Ini akan mengurangi rasa lapar dan perut yang sakit karena lambung yang asamnya meningkat maupun gesekan antar dindingnya sudah tidak ada. Ini sangat memudahkan dalam menjalankan ibadah puasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s